• RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube

Anda perlua melakukan upgrade ke Flash Player versi 10 atau di atasnya.

Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Selatan Brigadir Jenderal Polisi Drs. Rachmat Mulyana tiba di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Rabu pagi (30/8/2017).

Kedatangan Jenderal bintang satu tersebut beserta para Pejabat Utama Polda Kalsel ke kabupaten HST tepatnya di Polres HST disambut langsung oleh Kapolres HST AKBP Mugi Sekar Jaya, S.Sos, S.I.K. dan Dir Polair Polda Kalsel Kombes Pol Gatot Wahyudi, S.H. yang lebih dulu tiba di HST. Tujuan dari rombongan Kapolda Kalsel ini untuk bertatap muka dan berbelasungkawa terhadap keluarga tersangka illegal fishing yang mengalami luka tembak yang terjadi pada Selasa (29/8/2017) kemarin. Selain itu juga untuk mengadakan jumpa pers tentang kejadian illegal fishing yang ada di daerah perairan desa Kayu Rabah Kec. Pandawan Kab. HST yang mengakibatkan salah satu dari tersangka meninggal dunia.

Sebagaimana diketahui dua orang tersangka penyetruman ikan yang berinisal IRH dan ABN adalah warga desa Sungai Buluh Rt. 001 Rw.001 Kecamatan Labuan Amas Utara Kabupaten Hulu Sungai Tengah mengalami luka tembak karena sebelumnya melawan petugas menggunakan senjata tajam jenis parang.

Dari informasi yang diterima kejadiannya terjadi pada Selasa (29/8/2017), sekitar pukul 11.00 Wita di perairan Kayu Rabah tepatnya di Sungai Kamis / Sungai Handil 7 Rt. 02 Desa Kayu Rabah Kecamatan Pandawan Kabupaten HST.

Kronologis kejadiannya berawal sekitar pukul 05.00 Wita, saat 2 orang Anggota Polisi Airud Polda Kalsel Bripka HLB dan Bharatu FLG akan melaksanakan patroli rutin ke daerah perairan desa Kayu Rabah dengan dibantu oleh masyarakat sekitar untuk meminimalisir adanya aktifitas illegal fishing dengan cara menyetrum ikan yang sedang marak terjadi di daerah tersebut. Dalam pelaksanaan patroli tersebut, petugas dan warga dibagi dalam 2 tim, yakni tim 1 dipimpin Bripka HLB dan tim 2 dipimpin Bharatu FLG.

Tim 1 yang dipimpin Bripka HLB dengan beranggotakan 5 orang warga terlebih dahulu melaksanakan patroli menggunakan motor lewat jalan darat. Setelah itu dilanjutkan dengan berjalan kaki menyisir rawa dan pukul 08.00 wita, tim 1 mendengar suara genset yang diduga adalah suara aktifitas dari orang yang sedang melakukan penyetruman ditengah – tengah rawa. Karena tidak ada sarana untuk melakukan pengecekan ke tengah rawa maka, Bripka HLB menghubungi personel Polair yang masih stand by di Pos yakni Bharatu FLG.

Setelah mendapatkan informasi dari rekannya, Tim 2 yang dipimpin oleh Bharatu FLG dengan beranggotakan 8 orang warga segera berangkat menuju ke lokasi tim 1, sekaligus melakukan penyisiran ke tengah rawa untuk mengecek kebenaran adanya aktifitas penyetruman ikan yang sebelumnya diinformasikan sebelumnya.

Belum sampai ke lokasi untuk bergabung dengan tim 1,skj.11.00 wita tim 2 bertemu dengan 2 orang warga yang menggunakan 2 buah perahu sedang melakukan penyetruman ikan. Melihat hal tersebut, Bharatu FLG menegur kedua orang tersebut untuk tidak melakukan penyetruman ikan di wilayah tersebut. Setelah ditegur, dua orang tersebut melarikan diri. Tidak jauh dari tempat kejadian tim 2 menemukan 7 buah perahu tak berawak yang didalamnya terdapat peralatan setrum ikan.

Kemudian 7 buah perahu dan alat setrum tersebut akan dibawa oleh tim 2 untuk diamankan tapi belum sempat dibawa, tim 2 didatangi oleh sekelompok orang menggunakan 4 buah perahu dengan jumlah penumpang 4-5 orang perperahu lengkap dengan senjata tajam jenis parang.

Situasi langsung memanas dikarena sekelompok orang yang mendatangi tim 2 tersebut bersikeras untuk merebut perahu dan alat setrum yang disita petugas, bahkan mereka menantang petugas dengan parang terhunus.

Sekelompok orang tersebut mulai mendekati petugas dengan mengangkat parangnya, petugas memberikan tembakan peringatan untuk membubarkan sekelompok orang tersebut namun, tetap tidak dihiraukan dan sekelompok orang tersebut terus mendesak maju dan mengayunkan parangnya. Karena dinilai membahayakan keselamatan nyawa petugas dan warga yang ikut dalam kegiatan patroli tersebut, petugas menghadiahi timah panas kepada 2 orang tersangka yakni ABN dan IRH dengan maksud untuk melumpuhkan. Setelah ABN dan IRH berhasil dilumpuhkan oleh petugas dengan timah panas, baru lah sekelompok orang tersebut mundur dan melarikan diri meninggalkan ABN dan IRH yang terkapar.

Tersangka ABN dan IRH yang terluka langsung dilarikan ke rumah sakit H. Damanhuri Barabai oleh petugas untuk dilakukan pertolongan medis namun, tidak berapa lama setelah diberikan pertolongan medis, ABN meninggal dunia sedangkan IRH masih dalam perawatan pihak rumah sakit.

Jika menilik sebelum peristiwa tersebut terjadi, ternyata korban ABN sebelumnya pada 11 Nopember 2016 pernah membuat surat perjanjian yang ditandatanganinya di Desa Kayu Rabah, yang berisi bahwa yang bersangkutan berjanji tidak lagi mengulangi perbuatannya yakni melakukan kegiatan penyetrum ikan. Sebelumnya juga, aparat keamanan maupun pemerintah daerah dan kecamatan telah mengeluarkan himbauan kepada warga untuk tidak melakukan penyetruman ikan lagi.

Kapolda Kalimantan Selatan Brigjen Pol Drs. Rachmat Mulyana didampingi Dir Polair Polda Kalsel Kombes Pol Gatot Wahyudi dan Kapolres HST AKBP Mugi Sekar Jaya,S.sos, S.I.K mengatakan, “Saat ini pihak kami sedang melakukan pemeriksaan baik kepada petugas maupun saksi-saksi dari masyarakat yang ada di tempat kejadian serta masih mengumpulkan data-data di lapangan” jelasnya.

Sebelumnya Kapolres Hulu Sungai Tengah AKBP Mugi Sekar Jaya, S.Sos., S.I.K. bersama dengan Bupati HST juga sudah menjenguk korban di RSHD Barabai, sedangkan jenasah ABN sudah diantar pihak Polres HST dan Polsek LAU ke rumah keluarganya di desa Sungai Buluh Kec. LAU Kab. HST. (Hu)